Love in School
Love in School

Egi selalu menikmati saat-saat ketika ia pulang sekolah. Hatinya yang selalu riang dan wajahnya yang berseri-seri membuat wajahnya yang begitu imut tampak semakin menggemaskan. Tapi ia kemudian menghentikan langkahnya. Lalu terenung, “Apakah ibu akan mengizinkanku membeli kamera dan peralatan fotografi? Ah masa bodoh! Aku kan punya uang tabungan. Aku juga akan mencari uang tambahan untuk membeli peralatan fotografi..” gumamnya sendiri.

Baca juga:

 

“Pinjam kameraku saja!” teriak seorang laki-laki dari kejauhan pada Egi. Egi menoleh, memastikan dari mana suara itu. Dilihatnya seragam anak laki-laki yang berasal dari sekolah yang sama. Kemudian Egi terfokus pada sebuah wajah yang menatapnya sambil tersenyum lebar. Ia tak pernah mengenal siswa itu.

“Ha?! Siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu aku butuh kamera? Zaman sekarang aku harus hati-hati. Jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku. Atau… dia stalker yang ingin membunuhku dengan iming-iming meminjamkan kamera?” ujarnya sambil berjalan pelan-pelan menjauhi laki-laki yang masih memandangnya itu. Sekalipun Egi imut, ia termasuk gadis yang memiliki jenis paranoid yang tak umum. Cepat menarik kesimpulan asal ketika sedang merasa terancam. Dan cenderung tak rasional.

Siswa yang sedari tadi tersenyum padanya justru berteriak dan melambaikan tangannya ketika Egi terlihat menjauh darinya, “Semoga kita bertemu kembali gadis imut!!!”.

Egi langsung berlari sekuat tenaga menuju stasiun yang sudah akan ditujunya, “ORANG GILA MACAM APA DIA? AAH… BAGAIMANA BISA DIA TAU AKU SEDANG BUTUH KAMERA? AH TIDAK TIDAK! BAHAYA! BESOK AKU TIDAK MAU PULANG LEWAT JALAN INI LAGIII!” batinnya sambil terus berlari.

Taehyung masih melambaikan tangannya dan gemas melihat tingkah laku Egi yang begitu paranoid.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

4 + 5 =