Ketika Yupiter Bertemu Saturnus

“Kamu yakin besok nggak papa?” tanyaku mengejutkan Yura. Yura lalu tersenyum sedih.

“Siapa lagi yang akan memenangkan pertandingan selain aku?” balas Yura. “Dika tak akan mudah dikalahkan tanpa ada aku dalam tim. Tentu saja ini akan sangat menyebalkan jika aku harus menepati janjiku dan menuruti semua permintaannya.”

“Tapi kakimu?” tanyaku lagi.

“Ah sudahlah! Aku orang yang cepat pulih kok! Jangan terlalu khawatir!” jawabnya.

Aku kemudian keluar. Berusaha menerka-nerka. Kalau bukan Dika, lalu siapa? Siapa yang dengan tega menebar paku di lintasan lari Yura? Itu paku baru. Jelas seseorang sudah sengaja menebarnya.

Aku berjalan di koridor sekolah. Hari sudah cukup petang untuk para murid tetap berada di ruangan kelas. Kupikir saat itu aku sudah sendirian, kudengar suara para gadis ketika melintas di dekat toilet wanita.

“Rasain! Emang dia pikir dia siapa hah? Yura itu sok centil banget deket-deketin Dika!” ucap seorang gadis.

“Iya. Udah gitu sok-sokan lagi ngrekrut kita jadi timnya! Emang dia kira kita bakal balas dendam sama Dika? Yang ada mah kita balas dendam sama dia! Gara-gara dia, Dika jadi suka ngabaikan kita. Ngeselin banget!”

“Bangke tu Yura! Mosok aku pernah lihat Dika sengaja banget mayungin Yura yang lagi kehujanan pas pulang sekolah. Pernah juga Dika nganter Yura pulang dari tempat les ke rumah, tapi pake makan bareng dulu gitu di restoran. Kalian pernah nggak sih digituin?”

via GIPHY

“Sumpeh?! Gitu Yura masih pasang topeng ya di sekolah sok-sokan nggak naksir Dika! Eh ngomong-ngomong, idemu untuk nyebar paku dan nuduh timnya Dika duluan itu keren banget tahu!”

“Ya dong! Aku kok dilawan! Serang aja anak buahnya Dika yang nggak bisa debat. Udah tu selesai urusan kita. Hahahahahaha!”  Aku kenal sekali suara ini. Ini suara Lita.

“Eh, nggak sabar ya aku ngeliat Yura bakal jadi jongosnya Dika. Besok kita kalah-kalahin aja pas basket! HAHAHAHAHA” kudengar suara tawa itu kemudian mendekat ke pintu keluar toilet wanita. Aku bersembunyi di balik tembok pemisah toilet.

Setelah mereka cukup jauh, aku bergegas lari ke ruang perawatan. Kulihat Yura masih sendirian di sana.

Latest articles

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Related articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!