Terror Zaman Dulu
Terror Zaman Dulu

Cerpen “Terror zaman dulu” hanyalah sebuah karangan. Apabila terjadi kesamaan nama, peristiwa, dan situasi itu hanyalah sebuah kebetulan. Selamat membaca! Tekan “Mainkan di browser/ Play in browser” jika kamu ingin menggunakan musik latar dari soundcloud di bawah!

Beberapa hari ini, teman-temanku di kantor kerap memperbincangkan hal-hal unik yang mereka alami di masa kecil. Orang masa kini menyebutnya sebagai nostalgia anak 90-an. Mulai dari anime dan manga yang populer masa itu, jajanan hot-hot pop atau anak mas yang selalu menemani saat-saat bermain, hingga.. berbagai macam terror macam telepon dari mister X, suster gepeng, dan..

“Kamu inget nggak kalau pernah banget hits terror macam gini?” tanya salah seorang kawanku, Shanti, ketika aku sedang akan bekerja. Karena komputerku dalam proses booting dan memang aku penasaran, jadi kutanggapi saja gambar yang sedang ia sodorkan kepadaku.

via GIPHY

Di layar handphonenya tampak sebuah gambar handphone jadul dengan sebuah SMS dari nomor tak dikenal:

Pengirim: Dek Rani, lagi di rumah nggak? Ini kakak..

Penerima: Iya di rumah. Ini siapa ya?

 

Sampai titik itu aku ingat betul. Bahwa terror ini benar-benar menyeramkan karena menyebut nama kita dengan tepat. Dan di zaman itu dengan naifnya kita begitu mudah membalas pesan dari sebuah nomor tak dikenal. Aku melanjutkan membacanya.

 

Pengirim: Ini kakak yang tadi di pemakaman.

Penerima: Kakak yang mana?

Pengirim: Kakak yang tadi dikubur. Anu, kakak mau minta tolong lepasin tali kakak. Kakak udah di depan rumah Rani. Kakak kesusahan nih..

 

Daannn.. pesan berhenti di situ. Aku sedikit merinding. Tapi karena itu hanyalah keisengan masa lalu, kegelian merasukiku dan aku tertawa.

“Kok ya masih ada ya yang punya foto ginian?” tanyaku terheran-heran kepada Shanti yang senang karena aku terhibur.

“Ahh.. zaman sekarang mah apa yang nggak bisa dibuat? HP jadul juga banyak dijual. Tinggal kirim SMS yang kayak gitu, terus fotonya diedit kayak jadul gitu. Selesai sudah!” jawab Shanti.

Tiba-tiba bapak manager sudah ada di depan kami. Menatap kami dengan serius karena sedari tadi kami berisik dan tidak segera bekerja. Kami berdua terkejut. Shanti kelabakan karena dari tadi ia tak segera menyalakan komputer. Sementara aku merasa sedikit aman karena komputerku sudah menyala.

Bapak manager mundur beberapa langkah dari kami. Tidak biasanya. Raut wajahnya yang serius sedikit melunak. Ia melihat ke sekeliling yang sudah mulai sibuk dengan berbagai pekerjaan. Lalu ia berdeham. Dehamannya berhasil menarik perhatian seluruh isi ruangan. Seketika itu hening.

“Saudara-saudara!” bapak manager sedikit menahan napasnya. “Kali ini saya hendak menyampaikan kabar duka. Salah satu saudari kita, Luna, meninggal dunia pagi tadi, karena asthma akut.”

Astaga! Aku baru sadar, meja Luna yang biasa tepat waktu memang dari tadi kosong. Aku kira ia hanya terlambat beberapa saat. Semua orang di kantor juga seketika heboh karena kabar kepergian Luna yang baik hati. Kulihat Shanti kini sudah  mulai berlinangan air mata.

“Pemakaman akan diadakan jam 10 nanti di desa Luna. Bagi yang tidak memiliki pekerjaan urgent, bisa turut melayat. Sekian pengumuman dari saya. Silahkan melanjutkan pekerjaan Anda!” tutup bapak manager lalu kembali ke ruangannya.

Baca juga:

 

“Ya ampun Luna! Hiks! Hiks!” ucap Shanti sesenggukan. “ Kenapa sih orang baik nggak pernah hidup lama?”

“Sudah… sudah.. kematian seseorang itu memang takdir. Nggak ada yang tahu. Kita doakan saja semoga Luna diberi kemurahan hati oleh Allah.” Hiburku.

Seperti yang telah dikabarkan, jam 10 kami datang ke pemakaman Luna. Luna meninggalkan seorang suami dan seorang anak yang masih berusia 3 tahun. Anaknya dipeluk oleh neneknya. Ia belum paham betul mengapa ibunya harus dikuburkan. Suaminya berusaha tegar di depan anaknya, meskipun aku tahu dari raut wajahnya bahwa ia begitu tersiksa karena kepergian Luna.

Aku kembali ke kantor. Meletakkan seikat bunga di mejanya. Rupanya beberapa teman juga memikirkan hal sama. Beberapa ikat bunga sudah menghiasi meja Luna. Hari itu suasana kantor begitu kelabu karena kehilangan orang terbaiknya.

via GIPHY

Kira-kira jam 8 malam, aku baru sampai rumah dan selesai mandi. Aku mulai membuka instagramku untuk melihat tutorial resep ataupun video orang Korea yang hobi makan. Entah kenapa itu semua berhasil menghiburku. Saat aku sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba sebuah SMS muncul di notifikasiku.

SMS? Zaman sekarang masih ada yang kirim SMS?

Kubuka SMS tersebut. Dari sebuah nomor tak dikenal.

Ndah…

 

Siapa ya kira-kira? Shanti atau siapa? Kubalas saja SMS itu..

Ya? Ini siapa ya?

 

Benar-benar tanpa curiga aku membalas SMS itu. Tidak lama kemudian handphoneku berbunyi lagi.

Ini Luna…

 

Seketika aku terperanjat membaca SMS itu. Kulempar handphoneku jauh-jauh. Untunglah mendarat di karpet yang empuk. Sumpah. Kalau ini kerjaan iseng si Shanti nggak lucu banget! Aku lagi sendirian di rumah untuk beberapa hari ke depan! Lagian, keterlaluan banget kalau si Shanti membuat bahan candaan terkait kematian temannya sendiri.

via GIPHY

Aku memungut handphoneku. Masih menampilkan SMS yang super-creepy. Cepat-cepat kupencet tombol menu agar keluar dari pesan itu. Segera aku telepon Shanti.

Tut.. tut.. tut.. “Halo Ndah?” jawab Shanti dari balik telepon.

“Shan! Kamu jangan aneh-aneh deh!” jawabku ketus. Sementara handphoneku bergetar lagi, entah ada notifikasi apa lagi.

“Ha? Apa? Kenapa Ndah?” tanya Shanti keheranan.

“Kamu kirim SMS prank ‘kan ke aku? Pakai bawa-bawa nama Luna lagi. Nggak pantes tahu!” jawabku langsung menuduh Shanti.

“Luna? Apaan sih? Aku lagi di rumah Luna, masih ada doa di rumahnya ini lho! Udah ya!” jelas Shanti terdengar kesal.

Aku kecewa karena Shanti memutus teleponku. Aku berharap Shanti benar-benar iseng kepadaku.

Kulihat ada notifikasi SMS lagi di handphoneku. Itu saat aku sedang telepon Shanti tadi. Kuberanikan diri untuk membuka SMS itu.

Kok nggak dibales Ndah? Di sini gelap, sepi.. aku main ke rumahmu ya?

 

Seketika aku merinding. Tiba-tiba sebuah SMS masuk lagi.

Tadi habis telepon Shanti ya? Kamu di rumah sendirian ‘kan?

 

Tanganku gemetar. Tapi entah kenapa aku terpaku pada layar handphoneku. Sebuah SMS masuk lagi.

Nggak kok, aku nggak minta bukain tali pocongku. Oh iya aku udah sampe. Coba noleh ke kiri!

via GIPHY

“Indah ke mana?” tanya bapak manager kepada Shanti.

“Nggak tahu pak! Dari tadi saya telepon nggak diangkat. Saya chat juga nggak dibales.” Jawab Shanti.

“Ya sudah, nanti kalau ada kabar segera kabari saya ya? Ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan sama dia.” Jelas pak manager kemudian beranjak. Tak lama kemudian Ernie berjalan ke arah Shanti.

“Shan! Kamu tahu nggak? Ada gosip serem lho!”

“Gosip apaan?” tanya Shanti heran.

“Kemarin katanya handphone Luna yang dibawa Mas Anto nggak sengaja jatuh ke kuburan.”

“Terus?” tanya Shanti.

“Ya bukannya kalau ada barang yang jatuh ke kuburan bakal ada yang ‘ngembaliin’ ya?” jawab Ernie sambil mengangkat kedua jarinya membentuk tanda kutip.

“Tapi kalau itu barangnya sendiri?” tanya Shanti penasaran.

“Yaa mungkin dipake sendiri! Hihi!” jawab Ernie.

“Hush! Nggak pantes ah ngomongin orang yang baru saja meninggal!”

Kamu suka menulis? Pingin tulisanmu dibaca banyak orang dan mendapat banyak masukan dari kami agar makin berkualitas? Kamu bisa daftar jadi anggota BacaSajalah dengan klik link ini! Jangan lupa cek inbox/ spam box kamu dalam waktu 5 menit setelah kamu melakukan pendaftaran!

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

2 + eight =