Teman Bibi Dian
Teman Bibi Dian

Kakakku tinggal di sebuah rumah standard. Berlantai satu. Lantainya masih berupa tegel warna hitam. Jadi kalau melepas alas kaki akan terasa debu menempel di seluruh permukaan kaki. Catnya agak suram. Warna krem bukan. Pink juga bukan. belum lagi ditambah perpaduan warna hijau nyentrik yang tidak cocok sama sekali. Beruntungnya, untuk hidup bertiga bersama anaknya, kakakku tidak perlu khawatir karena kamar-kamarnya cukup luas. Kamar tidur ada 2. Tapi aku yakin, kakakku, suaminya, dan anaknya tidak akan pernah berpisah. Pasti mereka memilih tidur bertiga ketimbang tidur berdua dengan meninggalkan anaknya di kamar satunya. Ruang depan juga cukup luas. Kakak iparku menggunakan spasi itu untuk meletakkan manekin-manekinnya. Beberapa peralatan pembuatan manekin juga diletakkan di sana. Dapurnya dekat dengan kamar mandi. Sayangnya, sepertinya kakak iparku tidak tahu-menahu cara memperbaiki saluran pembuangan air di sini. Karena tersumbat, jadi dapur dan kamar mandi cukup bau. Membuatku mual setiap kali ke sana.

via GIPHY

Dari hasil penjualan manekinnya sejauh ini, kakak iparku bisa membeli sebuah mobil mungil berwarna merah. Itupun dibeli bukan tanpa alasan. Untuk mempermudah akomodasi pesanan manekinnya. Mengantar dengan motor tentu saja akan sangat merepotkan. Terus-terusan menyewa kendaraan tentu saja cukup merugikan karena biayanya cukup tinggi saat ini. Tapi sayangnya, sepertinya penjualan manekin kakak iparku agak menurun, sehingga harus menjual mobil mungil itu. Sementara ini, belum laku. Tapi tulisan “DIJUAL” beserta nomor telepon kakak iparku masih ditempel di kaca jendela belakang mobil itu.

Setiap pagi kakakku dan suaminya pergi mengantar anaknya ke sekolah dan setelah itu langsung mengantarkan manekin yang telah di pesan ke pelanggan. Alhasil, di rumah aku sendirian. Daripada aku sendirian, lebih baik melaksanakan rencanaku untuk menjelajahi Yogyakarta sendirian. Dengan modal nekat (dan uang saku tentunya), aku memilih menggunakan Transjogja. Halte Transjogja tidak begitu jauh dari sini. Hanya sekitar 200 meter dari rumah. Paling tidak kalau berjalan kaki hanya membutuhkan waktu 3-5 menit. Cuaca hari ini pun lumayan cerah, jadi amat sangat disayangkan kalau aku tidak memanfaatkannya.

Ketika aku hendak berangkat menuju halte Transjogja, aku mendengar suara panci bertumbukan di dapur. Cukup keras hingga membuatku terkejut. Dengan segera aku menengoknya. Kulihat dapur dan tidak ada seorangpun. Di dapur hanya ada panci berisi menu makanan hari ini: sayur bening dengan jagung manis, Masih ada wajan kotor bekas menggoreng tempe di ember hitam di sudut dapur. Anehnya, tidak ada posisi peralatan masak yang sepertinya menimbulkan suara sekeras tadi jika bertumbukan atau terjatuh. Kecuali memang dibanting atau terlalu besar dan berat.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

two × 5 =