Someone Who doesn't Want to be a Man
Someone Who doesn't Want to be a Man

Tahun Baru 1999

Malam tahun baru bisa menjadi saat yang terindah bagi semua orang. Bisa jadi saat terburuk pula bagi beberapa orang. Dalam beberapa kasus, bisa menjadi saat terindah yang kemudian dengan segera menjadi sumber keterpurukan. Itu semua bergantung dari sudut pandang yang memahami. Begitulah kira-kira yang tergambarkan dari apa yang dialami oleh pasangan unik ini.

“Makasih ya sayang, sudah bikin malam tahun baru ini spesial.” Ujar Hendri kepada pasangannya sembari menatap langit-langit. Menikmati awal tahun baru dengan penuh kepuasan. Hasratnya yang telah lama ia pendam akhirnya tersalurkan pada orang yang disayanginya.

“Mas Hendri ini, bisa saja. Yang hebat itu Mas Hendri. Aku mah nggak ada apa-apanya!” jelas pasangan Hendri malu kemudian menyembunyikan wajahnya di balik selimut.

“Aku ingin kita bisa seperti ini terus, Dan.” Jelas Hendri dengan sedih. “Terlepas dari bagaimana keadaan kita, aku tahu benar bahwa aku mencintaimu! Percayalah.” Hendri mengucap dengan yakin.

“Aku percaya mas. Aku benar-benar bisa merasakannya. Aku tahu di negara kita ini tidak mungkin bisa menjalin hubungan semacam ini. Asal kita bisa bertahan sejenak sa..” ucapan Dana terputus begitu saja ketika ada suara keras menghantam pintunya.

“DANA! KELUAR KAMU SEKARANG!” teriak suara di balik pintu. Terdengar begitu marah.

“Astaga Mas! Itu bapakku!” ucap Dana panik dan mulai mengenakan pakaiannya. Begitu pula Hendri segera mengenakan pakainnya. Belum lengkap mereka berbusana, pintu apartemen sudah terbuka dengan paksa. Tampak seorang pria paruh baya dengan tatapan garang dan beberapa pria lain di belakangnya.

“DASAR ANAK BEDEBAH! BODOH KAMU HAH?!” teriak pria tersebut kepada Dana lalu bergegas lari menuju Hendri. “BAJINGAN KAMU! KAMU AJARI APA ANAKKU?! SAYA TIDAK PERNAH MENDIDIK ANAK SAYA JADI MANUSIA KELAINAN SEPERTI KAMU!” pria itu menghantami tubuh dan kepala Hendri bergantian, tak memberi kesempatan kepadanya untuk melawan balik.

Sementara itu Dana ditahan oleh beberapa pria yang ikut serta ayahnya. Tak ada yang berusaha mencegah amarah ayah Dana.

“Sudah pak! Cukup!” teriak Dana berusaha melepaskan diri dari jerat para pria yang ikut serta ayahnya.

“B*JINGAN. MACAM. KAMU. HARUSNYA. MATI!” kini ayah Dana mulai mengiinjak-injak bagian tubuh Hendri yang dirasanya paling najis.

“SUDAH PAK! STOP! BAPAK MAU JADI PEMBUNUH?!” teriak Dana semakin keras, namun masih tak berdaya.

“Kamu?” kini ayah Dana mengalihkan murkanya pada Dana. “Dasar anak tak tahu diri!” satu tamparan keras disapukan di wajah Dana. “Dasar anak tak tahu terima kasih!” satu lagi tamparan mendarat dengan lebih keras. “Seharusnya bapak tidak pernah mengizinkanmu ke Jakarta!” satu bogeman keras dengan kumpulan batu akik membuat kesadaran Dana menipis.

“Aa..aa…aampuun pak..” ujar Dana memohon belas kasihan dari ayahnya. Dilihatnya Hendri meronta. Tergulung-gulung menderita karena kesakitan yang luar biasa.

“Tidak ada lagi Hendri! Pulang ke Jogja, minggu depan kamu langsung kunikahkan!” ucapan ayah Dana bagaikan gaung yang samar. Dana sudah mencapai ambang batas kesadarannya. Sementara tubuhnya serasa ringan karena diseret keluar oleh pria-pria yang datang bersama ayahnya.

“H-h-hen.. t-t-ung-gu a—ku…” ucap Dana lirih dengan kesadarannya yang terakhir.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

thirteen + 10 =