Someone Who doesn't Want to be a Man
Someone Who doesn't Want to be a Man

Epilog

Jogja 2002

“Huff..capek sekali pindahan. Untung Anggi udah bisa diajak pindahan.” Keluh Rukma setelah selesai memeriksa kelengkapan barang-barang pindahan.

“Anggi! Anggi! Kamu di mana?” teriak Rukma mencari Anggi.

GEDUBRAK!

Rukma segera berlari menuju suara tersebut. Dan benar saja. Anggi sudah tertimbun oleh tumpukan kardus berisikan kotak-kotak perhiasan pribadi Dana.

“Ya ampun Anggi! Kok bisa sih kamu usil gitu?” tanya Rukma sambil mengangkat Anggi dari tumpukan kardus tersebut.

“Kamu nggak apa-apa kan, nak? Duh.. anak mama pinter nggak nangis!” hibur Rukma. “Mas Anggi kok belum balik ya?” mata Rukma tiba-tiba teralihkan dari kilau sebuah cincin yang keluar dari kotaknya. Begitu menariknya sehingga Rukma ingin melihat detailnya.

Diambilnya cincin hitam itu. Diamat-amtinya. Di dalam kotak itu terdapat beberapa kain yang menggulung sesuatu. Dibukanya salah satu kain tersebut. Rukma menjerit keras. Dipastikannya lagi apa yang ia lihat. Sebuah bangkai tikus yang sudah kering. Dilihatnya lagi isi kotak itu. Secarik kertas berisikan keterangan.

Aji-aji tukar jiwa

Media haruslah darah dagingmu sendiri.

Berpuasalah tiap hari Kamis selama 15 tahun.

Lengkapi syarat-syaratnya. Jangan sampai ada yang lewat. 40 hari sebelum berpindah jiwa, cincin harus selalu dikenakan dan tidak boleh dilepas oleh media.

Cincin ini akan membuat jiwamu bertukar dengan raga baru. Sementara jiwa yang berpindah ke raga lamamu akan langsung hilang sebagai harga atas pertukaran ini.

Jika gagal jiwamu yang menjadi jaminan atas cincin ini.

Jika ada media lain (benda mati) yang dikaitkan dengan cincin ini maka jiwamu akan berpindah ke media lain itu walau media itu bukan media yang kamu inginkan.

 

Napas Rukma tertahan. Ia tak tahu rencana apa yang sedang dipikirkan Dana. Satu hal yang membuat firasatnya tidak enak adalah satu-satunya darah daging yang dimiliki Dana hanyalah Anggi. Rukma memilih untuk pura-pura tidak mengetahui ini dan merahasiakan seumur hidupnya.

 

2016

“Norak ah, Pa!” teriak Anggi mengejutkan Rukma yang sedang mempersiapkan masakan pesta ulang tahun. Diintipnya dari jauh apa yang sekiranya ayah dan anak itu lakukan. Dilihatnya sebuah cincin yang tak lagi asing di matanya.

Rukma benar-benar tak menyangka kalau Dana akan benar-benar tega mengorbankan Anggi. Rukma ingin menangis. Rukma merasa Dana tak seharusnya tega melakukan ini pada putri semata wayangnya.

Selang beberapa minggu kemudian Anggi menceritakan dampak dari cincin itu. Kini Rukma semakin yakin bahwa cinta Dana pada Hendri terlalu buta sehingga membuat ia rela mengorbankan darah-dagingnya sendiri. Maka Rukma merasa harus bertindak untuk mengatasi semua kegilaan Dana. Jika Dana tidak dihentikan sekaran juga, suatu saatt nanti ia akan terus-terusan berusaha melakukannya.

“Mas.. bisa nggak kalau toko ini membuat cincin yang sama persis. Berapapun saya bayar. Saya butuh duplikatnya.” Bisik Rukma pada petugas toko perhiasan. Petugas tersebut mengangguk dan menyanggupi. Butuh waktu seminggu untuk menyelesaikannya. Sudah sangat cukup sebelum Dana pulang ke rumah.

Ketika cincin itu jadi, dimasukkannya cincin hitam yang asli ke bambu muda yang tumbuh di pedalaman desa. Rukma tidak tahu pasti apa yang akan terjadi pada Dana, namun yang ia tahu apa yang ia lakukan hanyalah untuk menyelamatkan putrinya.

“Ma, Papa nggak berniat jahat kan dengan cincin itu? Kenapa mama tiba-tiba melakukan semua ini?” tanya Anggi keheranan.

“Anggi! Janji sama mama! Apapun yang terjadi sama papa, kamu tidak boleh menunjukkan kalau cincin yang kamu pakai itu palsu!” ucap mamanya sambil menahan kedua pipi Anggi erat-erat. Anggi hanya mengangguk. Sungguh anak yang begitu baik dan penurut.

Perlahan-lahan Rukma menyadari penurunan kesehatan yang dialami Dana. Rukma sebenarnya tak tega, namun baginya ini adalah satu-satunya cara agar putrinya selamat.

Di detik-detik terakhir Dana, Rukma mendekat dan berbisik pada Dana.

“Mas, aku nggak punya pilihan lain. Jika aku disuruh memilih antara kamu dan Anggi, maka aku lebih memilih Anggi. Pergilah, kamu harus menanggung semuanya sebagai tanggung jawabmu!”

Mendengar itu, dengan apa yang tersisa padanya, Dana menunjukkan kemarahannya. Matanya terbelalak, namun jiwanya terlanjur berpindah.

“Maafkan aku Mas Dana…” ujar Rukma setelah menutup mata Dana.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

nine + 1 =