Someone Who doesn't Want to be a Man
Someone Who doesn't Want to be a Man

Dana mondar-mandir seharian ini. Ia terus berjalan tanpa arah dari halaman belakang rumah hingga teras rumah. Perasaannya begitu gelisah. Ia merasa kesakitan. Benar-benar kesakitan. Ia tak dapat beristirahat sehingga mondar-mandir adalah satu-satunya hal yang membuat ia bisa melepaskan rasa sakitnya.

Sudah tiga minggu sejak ia mengeluhkan sakit pada tenggorokannya. Dokter mendiagnosanya sebagai penyakit alergi biasa. Namun ketika diber obat tak ada yang manjur. Hingga akhirnya di dokter terakhir Dana didiagnosa overdosis obat. Sehingga kini ia tak boleh mengonsumsi obat apapun bagaimanapun sakitnya dia.

Rukma hanya menatap sedih suaminya yang merasa kesakitan. Tapi bagi Rukma tak ada cara lain untuk menolongnya. Sudah tak ada yang bisa menolong Dana.

Dana terus mendesah, menanti Anggi pulang dari sekolah. Satu jam baginya rasanya seperti sudah setahun. Rasa sakitnya membuatnya marah, bingung, dan tak tahu harus berbuat apa.

Anggi pulang. Dana menyambutnya di depan, dengan tatapan kesal. Ia menarik Anggi dan mengangkat tangan kiri Anggi. Dilihatnya cincin hitam yang dikenakan Anggi. Kemudian dikibaskannya tangan kiri Anggi dengan kasar.

Dana terheran-heran, semestinya tidak begini jadinya. Seharusnya ia merasa menjadi semakin sehat, sementara Anggi yang seharusnya tiba-tiba terserang penyakit. Dana makin gelisah. Ia terus-menerus berjalan. Tapi karena rasa sakitnya begitu hebat, semuanya menjadi gelap.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

seven + 8 =