Seorang Nenek yang Menyapu Kamarku

“Kamu sudah nggak pulang berapa lama?” tanya bapak.

“Tiga tahun.” jawabku.

“Tiap kamu mau bekerja dan sesudah kerja doa nggak?” tanya ibuku.

“Nggak pernah. Kerja keras kan kunci kesuksesan. Bukan doa. Lha itu pengusaha-pengusaha sukses kayaknya nggak pernah doa.” bantahku.

Baca juga:

 

“Kamu temannya po? Kok tahu mereka nggak pernah doa?” balas bapakku. Mulutku langsung terkunci begitu saja.

“Nak. Kerja keras dan doa tak dapat dipisahkan. Karena, rezeki itu Tuhan yang mengatur. Kita bekerja karena Tuhan ingin kita memaknai hidup, tapi bukan terlarut di dalamnya.” jelas ibu.

“Dengan berdoa sambil bekerja, dan di dalam kerja kita berdoa, kita pun turut merayakan arti kehidupan. Jika kita mengabaikan doa dalam usaha kita, apalah arti kehidupan kita?” jelas bapak lebih njelimet lagi.

“Intinya. Kalau kamu terlalu mencintai pekerjaanmu dan materi yang dihasilkannya, lalu melupakan Tuhan dan keluargamu, suda barangtentu itu akan segera diambil dari kamu.” ringkas ibuku.

“Jadi? Aku harus ngapain?” tanyaku lagi.

“Tinggal dulu di sini untuk sementara dan rajin berdoa.” jawab ayahku.

“Jangan lupa berpuasa dan pantang. Sambil memantaskan diri di hadapan Tuhan.” tambah ibu.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk menhabiskan waktu selama 40 hari di rumah orangtuaku. Memperbanyak doa dalam keseharianku. Membantu ayah mengurus ternak. Membantu ibu memasak untuk para gelandangan. Sambil terus menekuni pekerjaanku yang sebelumnya.

Pada suatu malam, aku terjaga (dalam mimpi) di sebelah meja kerjaku. Kulihat seorang nenek yang sama. Rambutnya digulung ke belakang. Kini bentuk gulungannya tampak lebih besar. Hanya saja, dasternya kini tampak berbeda: berwarna kuning gading dengan batik bunga yang bermekaran di mana-mana.

Nenek yang melihatku terjaga itu kini tersenyum padaku. Kali ini ia membawa cikrak berisi banyak debu. Jauh lebih banyak dari kotoran yang ia sapu dulu.

“Ini nenek kembalikan. Ingat ya? Eling! Eling! Eling! Kalau lupa lagi nanti nenek bersihkan lagi!” katanya sambil tertawa lembut.

via GIPHY

Aku hanya tersenyum melihatnya menebar debu di sekeliling meja kerjaku …

Itulah awal, di mana pada akhirnya semua bisnisku dapat berkembang pesat. Sementara aku selalu ingat akan Tuhan dan berbakti kepada orangtuaku.

Baca juga:

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!