Seorang Nenek yang Menyapu Kamarku
Seorang Nenek yang Menyapu Kamarku

“Baiklah kalau memaksa. Jadi gini mbah. Suatu malam saya mimpi ruang kerja saya disapu oleh seorang nenek tua tapi kelihatan segar bugar.” ceritaku.

“Rambut neneknya digulung ke atas?” tanya mbah dukun.

“Iya.” jawabku.

“Pakai daster kecokelatan batik daun-daun gugur?” tanyanya lagi.

“IYA!” jawabku antusias. Kagum kenapa mbah dukun ini langsung tahu.

“Bilang supaya kamu ‘eling’?” tanyanya lagi.

“IYA! IYA! BENAR SEKALI!” entah kenapa sesaat ini seperti gameshow “makan Baluga”.

Baca juga:

 

“Ada uang berapa di dompetmu?” tanya mbah dukun sensi.

“Dua ratus ribu mbah.” jawabku bingung.

“Kemarikan!” lantas aku mengambil dua lembar merah dari dompetku. Ini dua lembar terakhirku.

“Sekarang pulanglah!” aku bingung ketika mbah dukung mengayunkan tangannya dan kemudian menyuruhku pergi.

“Tapi mbah!” protesku.

“Nggak ada tapi-tapian! Kamu baru saja ketemu Dewa Kemiskinan! Berarti kamu habis melakukan kesalahan besar!” lanjutnya.

“Terus saya harus gimana mbah?!” kini mbah dukun sudah mendorongku keluar dari ruangannya.

“Kamu harus pulang!” kata mbah dukun.

Aku kemudian memutuskan untuk melepaskan diri dari dorongan mbah dukun kemudian dengan kesal melangkah ke pintu keluar.

“Tunggu dulu!” teriak mbah dukun.

“Katalognya hanya untuk orang yang serius jadi reseller!” ucapnya sambil menarik paksa kedua katalog yang ada di tanganku.

“Tapi saya serius mbah!” ucapku membantah.

“Hus! Hus! Pergi sana! Kalau kamu lama-lama di sini saya juga bisa ketularan miskin!” kini mbah dukun benar-benar mengusirku.

Aku berjalan gontai keluar dari ruangan mbah dukun. Hatiku pedih sekali mendengar bahwa yang mendatangiku adalah Dewa Kemiskinan. Pantas tak ada sepeserpun pendapatan yang masuk selama 3 bulan terakhir.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

three × five =