Seorang Nenek yang Menyapu Kamarku
Seorang Nenek yang Menyapu Kamarku

“Jadi, kamu butuh apa nak?” tanya mbah dukun di balik meja kecilnya. Asap dupa nan mewangi menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya tak seperti dukun pada umumnya. Ia tampak tambun dan kulitnya putih bersih. Ia pun tak mengenakan ikat kepala, melainkan penghias kuping berwarna emas yang membuat ia tampak seperti goblin yang tambun.

“Ah.. mbah bikin semua ini sendiri? Kayak yang di film-film ya?” tanyaku penasaran.

Baca juga:

 

“Benar sekali nak! Memang saya yang biasa menata dekorasi buat di sinetron! Hahahahaha!” jelasnya sambil tertawa dengan suara yang berat. Seperti suara Mel Gibson tapi ini versi dukun.

“Kalau dupanya dijual mbah?” tanyaku lagi penasaran.

“Kebetulan saat ini promo beli 2 gratis 1! Kalau kamu mau jadi reseller nanti saya kasih harga khusus! Hahahahaha…!” tawarnya lagi. Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum nggak jelas.

Hening sesaat … Kami berdua terjebak dalam keheningan yang canggung.

“Sudah? Itu saja?” tanya mbah dukun memastikan.

Aku diam. Bingung sebenarnya apa tujuanku ke sini. Lupa dengan tujuan awalnya.

Hening lagi. Aku belum menjawab. Mbah dukun menatapku kebingungan.

“Ya sudah saya ambilkan katalog dupanya dulu!” ujar mbah dukun sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Tunggu dulu mbah!” cegahku.

Mbah dukun itu kini batal berdiri. Memasang tampang serius.

“Saya tadi ke sini mau ngapain ya?” tanyaku kebingungan.

“Jadi reseller dupa kan?” tanya mbah dukun balik.

“Ah iya..” aku mengangguk setuju. Mbah dukun kini beranjak lagi dari tempat duduknya.

“Tapi mbah!” teriakku mengejutkan mbah dukun sehingga ia kini justru terjungkal.

“Kalau ada katalog dekorasi saya minta juga ya!” ucapku.

Mbah dukun kini geleng-geleng kepala. Kemudian berdiri dengan sukses. Aku masih duduk dengan manis di depan meja perdukunan. Asap-asap dupa kini mulai menipis. Air-air kembang di kendi mengeluarkan riak karena mendapatkan tetesan air dari pipa bambu di atasnya. Bunga-bunga di permukaan bergerak dengan tenang mengikuti arah riak. Mbah dukun kini kembali duduk di hadapanku.

“Ini katalognya.” ucapnya datar sambil menyerahkan dua brosur kepadaku.

Aku menerimanya dengan senang hati. “Ah mbah saya mau tanya.”

“Kalau berkaitan dengan hal mistis harus bayar!” jawabnya ketus.

“Nggak kok mbah. Ini tentang mimpi saya beberapa bulan lalu.” jawabku.

“SAMA SAJA!” jawabnya jengkel.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

four × five =