Rupanya Aku Salah Tetap Menunggumu
Rupanya Aku Salah Tetap Menunggumu

Cerpen “Rupanya Aku Salah Tetap Menunggumu” adalah sebuah cerpen romantis. Silahkan membaca dan menikmatinya. Tekan tombol ‘Mainkan di Web Browser’ jika ingin membaca cerpen ini diiringi dengan istrumental dari soundcloud!

——————————————————————————————————

TING! 

Brian…

Begitulah isi pesan singkat yang kubaca. Dari seseorang yang entah sudah berapa tahun lamanya tak kudengar kabarnya. Nita, mantan kekasihku.

… Ya?, begitu kubalas. Singkat, padat, dan hanya satu tanya.

TING!

Apa kabar? …

Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Siapapun itu, kalau ia mantan, pasti hanya sekedar basa-basi untuk tujuan lain yang bisa jadi lebih tidak mengenakkan.

… Baik. Sudah berapa tahun? Tiga? Empat? Ada perlu apa, Nit?, tadinya aku ingin membalas lebih to the point. Tapi aku rasa itu bukanlah cara baik untuk berkomunikasi.

TING!

Aku kangen…

Sungguh. Balasannya begitu cepat. Bahkan terlalu cepat bagiku. Apakah hanya karena rindu, seseorang, bahkan mantan, yang mengaku tak lagi ada rasa, akan seperti ini tindak-tanduknya?

… Nggak usah bercanda, Nit., Aku masih bersikap dingin. Tak ingin lagi terlibat perasaan dengannya. Ia tahu betapa sulitnya relasi yang kami jalani. Tapi ia tetap memaksakan kehendak.

TING!

Ah, aku ada di dekat tempat kerjamu. Bisa kita ketemu sebentar? Di kafe biasanya.

Hmm.. kafe biasanya. Aku bahkan hampir melupakannya. Kafe yang mungkin penuh kenangan baginya. Kami biasa bertemu di kala ada waktu yang bisa disisihkan. Sayangnya…

TING!

Kamu ke mana? Ditunggu Pak Hilman. Laporannya sudah siap kan?

Ah iya. Laporan. Omset minggu ini meningkat lagi karena kerja kerasku. Pak Hilman akan puas dengan laporanku minggu ini. Kuabaikan pesan dari rekan kerjaku itu. Kubalas cepat pesan dari Nita dan aku bergegas menuju ruangan Pak Hilman.

Sepanjang aku menyampaikan laporan handphoneku terus bergetar. Sungguh mengganggu. Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku hingga larut. Hingga akhirnya aku sadar, langit sudah gelap. Tinggal lampu kota dan sayup kendaraan yang tersisa menghiasi malam ini.

Kapan terakhir kali handphoneku bergetar? Satu jam lalu? Kubuka pemberitahuan pesan yang sudah menumpuk beberapa kali. Kubaca pesan teratas yang tampil di layar handphoneku.

23:00

Rupanya aku salah tetap menunggumu.

Nita? Bukannya aku tadi sudah memberitahunya kalau..

Kubuka pesan dari Nita… kubaca urut dari bawah.

18:00

Yan, kenapa kamu tega? 

16:30

Yan? Nggak apa kok. Aku tunggu sampai kamu pulang kerja ya? 🙂 

14:30

Yan, aku kangen beneran.. Aku cuma minta waktumu sebentar, tapi kenapa kamu kayak gini? 

13:00

Yan, kamu di mana?

12:45

Yan, aku di tempat biasanya ya? 🙂 

12:30

Yan, aku sudah sampai..

Sampai sini aku mulai merasa tidak enak. Hingga akhirnya kubaca lagi pesan terakhirku untuknya.

12:15

… Aku bisa.

Astaga. Kata “g” yang mewakili “nggak” tidak terketik. Kuputuskan untuk memberi penjelasan kepada Nita, bahwa ada kesalah pahaman sejak tadi.

Nit, maaf. Sebenarnya aku bilang kalau aku nggak bisa. Tapi ternyata salah ketik.

Centang satu…

 

Baca juga:

 

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

5 − four =