Maruta - Petualangan Awan bagian IX
Maruta - Petualangan Awan bagian IX

Maruta adalah bagian cerita dari petualangan Awan. Setelah Maruta berhasil membeli Awan, apa yang akan dilakukannya? Siapakah Maruta sebenarnya? Baca cerita di bawah ini!

Untuk kamu yang belum membaca episode sebelumnya silahkan baca di:


Awan termenung di kursinya. Sedari tadi ia memandangi pepohonan yang dilewati pesawat. Badannya masih kesakitan karena tambang yang tadi mengikatnya begitu kencang.

Maruta berdiri di tengah kabin. Jubahnya yang berwarna merah membuat ia yang sudah berusia hampir setengah abad tampak norak. Sepatu boot dan sarung tangan kulit tak Awan mengerti fungsinya apa. Ditambah lagi, kacamata yang terus-menerus dibetulkan posisinya itu tampak merepotkan. Awan baru tahu Maruta begitu aneh ketika benar-benar sudah sadar.

“Syukurlah aku membawa cairan itu.” ujar Maruta terkekeh-kekeh sambil merapikan rambutnya yang dicat pirang lalu menaikkan kerah hemnya yang berwarna putih.

“Kalau aku tidak membawanya, hargamu tidak akan semurah itu! Hahahaha!” luka yang tadi merembes adalah trik Maruta untuk menurunkan harga. Entah cairan apa yang dioleskan dan kapan ia mengoleskannya. Yang jelas karena itu bagi Maruta ia sudah untung besar.

“Lalu enaknya bagaimana ya? Kamu kujual lagi dengan harga mahal, atau bekerja di tempatku saja?’ gumam Maruta sambil berkecak pinggang. Gesper sabuknya yang berbentuk Naga menambah nilai norak Maruta. Awan hanya menghela napas. Nasib sial apa yang tengah dihadapinya ini.

Sejenak Awan menyesali keputusannya. Segala yang ia miliki hilang. Seandainya ia tak pergi mungkin hari ini ia bisa berkumpul bersama Sore dan Warna sahabatnya.

“Bagaimana lukamu?’ tanya Maruta. Awan tak menggubris pertanyaannya. Rasa nyeri karena jarum bius tak akan mengalahkan rasa kecewa yang ia alami saat ini.

“Tenang saja, di sana nanti kamu akan bertemu dengan banyak anak seumuranmu. Masalah kamu akan kujual lagi atau tidak, itu bergantung pada apa yang akan kamu lakukan di sana.” jelas Maruta tak sedikit pun menenangkan Awan. Hanya satu yang membuat Awan penasaran, ke mana arah mereka terbang saat ini.

“Mumpung kamu adalah orang yang pendiam, dan belum bertanya apapun hingga saat ini, akan kuperjelas, bahwa tak akan ada satu informasi pun yang akan kamu dapat dariku: ke mana kita pergi, atau siapakah sebenarnya aku ini!” jelas Maruta ringkas membuat Awan mengurungkan niatnya untuk bertanya. “Dan satu lagi. Aku juga tak akan peduli siapa kamu, siapa namamu, dari mana kamu berasal.” lanjutnya.

“Rinka, berapa lama lagi kita sampai tujuan?” tanya Maruta pada pilot pesawatnya.

“Sekitar 45 menit lagi.” jawab Rinka.

“Bagus. Nikmati saat-saat bebasmu di sini. Bersiaplah untuk banyak hal yang tak akan kamu duga! Hahahahaha!” ucap Maruta.

Awan hanya bisa menelan ludah.

Bersambung …

Baca juga:

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

five × two =