Gadis Cantik dari Antah Berantah
Gadis Cantik dari Antah Berantah

“Apa yang dilakukan anak gadis kepala desa di hutan sesore ini? Mencari air hah? Atau.. mau menyerahkan diri kepada kami.. untuk dinikmati bersama?” tanya orang yang sama, kali ini dengan tatapan yang sungguh menjijikkan.

Gadis itu hanya memasang kuda-kuda siap. Tak ada tanda-tanda ketakutan di wajahnya. Kernyit di dahinya juga menadakan keberanian hatinya. Sekalipun demikian, tak mengurangi kecantikannya.

“Sebaiknya kamu tidak bertindak gegabah.” ucap pria yang lain. Tubuhnya lebih kecil daripada pria yang sebelumnya. Tapi tampaknya ia lebih didengarkan. “Kita bisa meminta tebusan kepada kepala desa yang jauh lebih besar. Kalau kita menyentuhnya lebih dari yang dibutuhkan, kita justru akan mengancam keberadaan kita sendiri.” lanjutnya.

Pria mesum itu kini mendengus kesal.

“Kenapa aku harus selalu menuruti perkataanmu hah?” suaranya meninggi. Kali ini ia mondar-mandir tampak kesal dengan ucapan kawannya itu – atau – lebih tepatnya, rival?

“Jangan menyentuhnya?” tanyanya menantang. “Tapi aku rasa kalau sedikit saja masih bisa.” lalu dengan tiba-tiba pria berbadan kekar itu bergerak dengan cepat menuju si gadis anak kepala desa. Menarik kerah kebayanya dan mengarahkan goloknya hendak mengoyakkan kebaya gadis tersebut.

Entah apa yang terjadi denganku. Dengan cepat pula aku mengambil batu berbentuk lempengan. Aku seolah tak sadarkan diri. Aku bergerak begitu cepat, jauh lebih cepat dari kesadaranku. Kulemparkan lempengan batu itu tepat sebelum golok tersebut menyentuh sehelai pun kebaya yang dikenakan gadis cantik itu. Aku bergerak melesat dengan gesit menuju pria kekar itu, menyampaikan tinju kekesalanku pada tengkuknya. Ia terlempar, sementara itu dengan cepat pula si gadis kudorong agar menjauh.

Baca juga:

 

Aku masih mengingat bahwa mereka tak mengenakan alas kaki. Maka dengan sigap pula kugunakan sepatu biruku ini untuk menginjak kaki mereka sekeras-kerasnya. Siapa yang menyangka bahwa aku bisa bergerak selincah ini. Empat pasang kaki kuinjak dengan sukses, lalu kutendang tulan gkering mereka sekuat tenaga. Belum selesai melumpuhkan mereka, pria kekar itu sudah bangkit berdiri. Sebelum aku sadari, ternyata ia juga begitu lincah di balik tubuh kekarnya itu. Ia menyekap gadis itu dan mengarahkan golok di lehernya. Aku merasa kecewa mengapa gadis itu tidak langsung lari begitu saja meninggalkanku. Aku memastikan lagi bahwa keempat orang itu tak akan sanggup bangun lagi.

“Lebih baik kamu menyerah, atau gadis ini yang akan menjadi taruhannya!” ancam pria bertubuh kekar itu.

Aku tak mengenal gadis itu. Aku bahkan tak mengenal diriku sendiri!

Melihat itu aku begitu kesal. Terlalu kesal hingga tanganku bergetar begitu dahsyatnya. Pria kekar itu kini melihat tangan kiriku. Aku tak mempedulikannya. Aku masih merasa begitu kesal. Amat sangat kesal. Aku melangkah dengan tenang mendekatinya.

“Jangan berani-beraninya ya kamu? Atau kubunuh gadis ini!” pria itu mundur beberapa langkah. Kini tampak di wajah pria dan gadis itu sebuah pantulan cahaya berwarna kebiruan. Pria itu kini benar-benar mengawasi tangan kiriku, mulai tampak kektakutan, begitu juga gadis itu. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku hanya mengikuti naluri, bukan, kemarahanku.

“Kamu tak mendengarku hah?!! KUBU-..” dan dalam sekejap aku sudah berada di hadapannya. Menyambarkan tangan kiriku ke perutnya. Gadis itu berteriak dan terjatuh. Aku seperti

melepaskan energi yang begitu besar kepada pria itu. Pria itu berkejang-kejang, sebelum akhirnya tak bergerak lagi.
Nyala biru itu kini padam. Begitu pula senja pun padam, menyisakan kegelapan yang makin meliputi.

Napasku tersengal-sengal. Hatiku seperti diliputi kekelaman pula. Aku begitu kebingungan, seperti gadis itu yang begitu kebingungan melihatku. Tapi sekali lagi, tak ada rasa takut terpancar di matanya. Malah belas kasih yang kurasakan terpancar dari mata indahnya. Empatinya terasa begitu besar.
Gadis itu melangkah mendekatiku. Kebayanya cukup berantakan. Kendinya sudah pecah terlempar sewaktu pertarungan tadi. Beberapa petak tanah hutan menjadi basah akibatnya. Wajahnya kini menunjukkan kekhawatiran. Gadis itu kini membantuku yang tertunduk lemas untuk berdiri.

“Jadi.. siapa kamu?” tanya gadis itu lembut.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dipikir sedari tadi aku tak menanyakannya hah?

Bersambung ke Sang Pria yang Terlahir dari Guntur

Baca juga:

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

1 × two =