Aku Ingin Selalu Bersamamu
Aku Ingin Selalu Bersamamu

“Ini tak diperlukan lagi.” ujar Ara sambil menarik lakban hitam yang menjadi pembatas ruang di antara mereka.

“Hei! Apakah itu tidak masalah?” tanya Nod heran.

“Aku tahu kamu orang yang baik. Aku juga sebenarnya tadi pagi sudah bangun ketika kamu menarik selimut untuk menutupi tubuhku.” jelas Ara. Wajah Nod memerah.

Baca juga:

 

“Nod…” “Besok… ayo bertemu ayah dan ibuku!” ajak Ara. Nod menelan ludah. Memang benar mereka hari ini resmi berpacaran. Tapi bertemu dengan orangtua Ara terlalu cepat jika itu besok. Bahkan jika tersisa 3 hari lagi bagi mereka untuk hidup.

“T-t-tapi.. bukannya terlalu cepat ya?” Nod gelagapan. Kini Ara merengut dan membuat wajahnya tampak lucu.

“Aku sudah bertemu ayah dan nenekmu! Tidak adil jika kamu tak menemui ayah dan ibuku!” rengek Ara kesal.

“Ya?” tanya Ara memastikan. Nod cuma tertunduk, “baiklah…”

Jauh di dalam hatinya, ia takut bertemu dengan ayah Ara…

“Kita harus berjalan seberapa jauh lagi, Ra?” keluh Nod kesal. “Kita sudah lumayan jauh dari jalan raya, apakah kamu tinggal di ebuah desa yang pelosok?” sindir Nod.

“Kenapa kamu mengeluh seperti anak manja? Sebentar lagi kita sampai kok!” jawab Ara.

Angin berhembus semakin kencang ketika mereka mendekati sebuah ujung jalan. Terdengan suara desiran ombak. Suara burung camar begitu kencang. Tibalah mereka di sebuah ujung tebing. Di ujungnya terdapat sebuah batu yang berukir, entah apa yang tertulis di sana. DI balik tebing itu terdapat sebuah jurang yang cukup tinggi langsung mengantar pada pantai berpadas.

“Kita sudah sampai, Nod!” ujar Ara. Nod merasakan suatu kerinduan tersendiri dari dalam hati Ara.

“Ini?” Nod berucap sedih. “Iya, ayah-ibu, perkenalkan, ini Nod pacarku!” kata Ara sambil membelai sebuah batu berukir itu. Ketika ia melihat ukirannya, tampak tertulis nama sepasang suami istri.

“Ayah dan ibuku kecelakaan di sini. Saat itu hujan cukup deras. Ayahku yang mengendarai mobil tak menyadari bahwa mereka sampai di ujung jalan dengan jurang tinggi di hadapannya.” tutur Ara.

“Jadi rumah yang kau maksud beberapa hari lalu itu?” tanya Nod.

“Iya, itu panti asuhan. Aku yatim-piatu Nod.” ungkap Ara.

“Maafkan aku..” kata Nod. “Tak apa Nod…” jawab Ara.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

ten − two =